Tekanan ke saham juga datang setelah Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu mengerahkan pasukan ke Jalur Gaza. Serangan darat ini datang setelah Hamas menolak gencatan senjata. Meski Israel mengatakan serangan ini terbatas, hanya untuk melumpuhkan kemampuan serangan Hamas, ini merupakan bentuk eskalasi konflik yang sudah berlangsung selama 10 hari.
Para pengamat menyebut kedua even geopolitik ini menjadi faktor yang memicu koreksi saham. Namun mereka mengatakan selama kedua insiden itu tidak mengalami eskalasi, pasar akan melewatinya dalam beberapa hari ke depan. Analis dari Wells Fargo melihat kedua peristiwa itu sepertinya tidak akan memicu koreksi sampai 5%. Menurutnya, dengan valuasi yang tinggi saat ini, wajar bila ada yang ingin merealisasikan keuntungan dulu.
Mengenai apa yang terjadi di Timur Tengah, para analis melihat bukanlah sesuatu yang baru. Selama tidak memicu konflik regional, dan melambungkan harga minyak, efeknya ke pasar juga tidak akan lama.
Fundamental ekonomi global sejauh ini masih bagus, dan selama kedua even itu tidak sampai mengganggu pasokan minyak global dalam jangka panjang, sepertinya semua akan baik-baik saja.
Terkait pergerakan saham, kedua even menjadi katalis untuk koreksi jangka pendek. Indeks S&P 500 jatuh 1,2% ke 1958. Kelanjutan koreksi diperkirakan bisa menuju ke 1920-1900. Para analis sepakat pada dasarnya ekonomi dunia terus dalam pemulihan. Pada akhirnya, faktor yang menggerakkan saham adalah laba korporat dan pertumbuhan ekonomi. Seiring dengan berjalannya konflik, pasar akan menilai apakah itu berdampak pada pertumbuhan global dan laba emiten.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar