BRANCH OFFICE BANDUNG

BRANCH OFFICE BANDUNG
JL. WR. SUPRATMAN No. 21 BANDUNG

Senin, 21 April 2014

Defisit Jepang Membengkak Karena Impor Energi

Pertumbuhan ekspor yang rendah dan lonjakan biaya impor energi menyebabkan defisit perdagangan Jepang membengkak. Hal ini menambah tantangan ke pemerintahan Shinzo Abe yang sedang berupaya membangkitkan ekonomi pasca kenaikan pajak penjualan.
Japan EconomyKementerian Keuangan Jepang hari ini melaporkan ekspor hanya tumbuh 1,8% selama Maret dari tahun lalu, jauh di bawah prediksi yang 6,3% dan Februari yang mencapai 9,8%. Sedangkan impor melonjak 18,1%, di atas prediksi 16,2% dan dua kali lipat Februari yang 9%. Dengan ini, defisit perdagangan mencapai 1,4 triliun yen, lebih besar dari prediksi 1,08 triliun yen dan Februari yang 800 miliar yen.
Kenaikan biaya impor energi karena pelemahan yen menjadi faktor yang membuat nilai impor membengkak. Selain itu pembelanjaan barang luar energi menjelang kenaikan pajak penjualan juga mendorong impor. Impor energi selama Maret naik 15% dari tahun lalu dengan nilai 28,41 triliun yen.  Impor energi Jepang terus bertambah sejak berhenti operasinya reactor nuklir Fukushima karena gempa dan tsunami.
Menurut pengamat, meski ada pelemahan yen, kinerja ekspor Jepang ternyata lebih rendah dibandingkan Korsel atau Taiwan. Menurutnya, defisit perdagangan akan terus membengkak kecuali pemerintah memutuskan menghidupkan kembali reactor nuklir. Pengamat lain mengatakan ekspor rendah karena produk Jepang tidak sekompetitif dulu. Depresiasi yen sebesar 19% sejak Desember 2012 ternyata gagal mengdongkrak ekspor, justru malah menjadi menambah biaya impor dan penyebab defisit bulanan selama hampir dua tahun.
Kondisi ini mengindikasikan ekonomi harus berjuang setelah kenaikan pajak penjualan. Pemerintah harus mengambil langkah untuk meningkatkan daya saing produk Jepang dalam rangka meningkatkan pertumbuhan. Timbul desakan agar BOJ menambah stimulusnya demi menyelamatkan ekonomi. Tapi masih menolak sampai saat ini dengan alasan inflasi tetap bisa mencapai target 2%. Pemerintah menurunkan penilaian ekonominya karena rendahnya permintaan pasca kenaikan pajak penjualan. Tapi belum melihat perlunya stimulus tambahan.

Tidak ada komentar: