Para ekonom berbeda pendapat mengenai prospek ke depan, dengan sebagian memproyeksikan pertumbuhan masih stabil dan pemerintah tidak akan mengeluarkan kebijakan baru. Sebagian lain berpandangan pelonggaran kebijakan perlu dilakukan. Sejauh ini, Beijing sudah mengumumkan kebijakan yang tidak agresif, atau yang dikenal dengan stimulus mini, seperti pemotongan pajak untuk UKM dan mempercepat proyek pembangunan rel kereta.
Data lain yang diumumkan oleh NBS menunjukkan output industri tumbuh 8,7% di Maret, sedikit di bawah prediksi 8,8%. Penjualan ritel tumbuh 12,0% di bulan itu, sedikit di atas prediksi 11,9%. Investasi aset tetap meningkat 17,6% di kuartal pertama, di bawah prediksi 18,0%. Data Maret yang sudah terkumpul tidak mengurangi kekhawatiran bahwa ekonomi semakin kehilangan momentum. Ekspor dan impor menurun tajam, sektor manufaktur juga lesu.
Kinerja pertumbuhan China merupakan isu penting bagi ekonomi dunia. China adalah mitra dagang terbesar bagi beberapa negara, terutama di Asia. Perlambatan yang signifikan bisa mempengaruhi performa ekonomi negara lain. Selama ini, Beijing melakukan perombakan dengan mengalihkan mesin utama pertumbuhan ke konsumsi domestik dari ekspor dan investasi.
Menurut pengamat, data itu belum mendesak adanya perubahan kebijakan moneter, tapi beberapa bulan ke depan, ada kemungkinan hal itu semakin perlu dipertimbangkan. Mereka melihat perombakan model ekonomi yang sedang dijalankan Beijing berpotensi semakin menghambat pertumbuhan. Di sisi lain, Beijing merasa perlu melakukan perombakan itu demi menjaga kesinambungan pertumbuhan dalam jangka panjang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar