BRANCH OFFICE BANDUNG

BRANCH OFFICE BANDUNG
JL. WR. SUPRATMAN No. 21 BANDUNG

Senin, 18 Februari 2013

G-20 izinkan pelonggaran global?

Para menteri keuangan dan bank sentral G-20 membantah adanya perang mata uang namun mengatakan akan menghindari devaluasi kompetitif.
Dalam komunikenya, mereka menyatakan tidak akan mentargetkan mata uang untuk tujuan kompetitif dan nilai tukar harus ditentukan lewat pasar, pernyataan yang mirip dengan G-7. Para menteri dan pejabat bank sentral yang bertemu di Moskow itu ternyata tidak menyebut Jepang secara spesifik terkait kebijakannya yang mengakibatkan depresiasi yen. Dengan itu, pada dasarnya mereka mengatakan Jepang bisa terus menerapkan kebijakan mereflasi ekonomi, pendekatan yang selama ini sudah dilakukan negara lain, seperti AS dan Inggris.
Menteri Keuangan Australia Wayne Swan mengatakan isu (perang mata uang ) itu dilebih-lebihkan. Menteri Keuangan Jepang lega setelah negaranya lolos dari kritisi, meski menerapkan kebijakan moneter yang telah melemahkan yen sampai 21%. Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde mengatakan memang ada isu perang mata uang, tapi kita belum lihat yang seperti itu.
Selain itu, para pejabat justru mengeluarkan pernyataan yang pro pertumbuhan. “Kami mengakui masih adanya risiko dan pertumbuhan global masih lesu, dengan tingkat pengangguran masih tinggi di banyak negara. Oleh karena itu, negara maju akan merancang strategi fiskal yang kredibel,” sebut komunike itu.
Dengan membiarkan Jepang lolos dan mendesak langkah untuk membantu pertumbuhan, G-20 memberi sinyal pelonggaran fiskal dan moneter bisa berlanjut. IMF sepertinya mendukung pelonggaran moneter di zona euro, dengan mengatakan ada ruang untuk memangkas suku bunga di sana, yang saat ini masih lebih tinggi dai negara lain seperti AS, Inggris dan Jepang.
Stimulus dari negara maju, terutama di zona euro, akhirnya bisa memicu pelemahan mata uang. Maka timbul pertanyaan, bukankah itu sama dengan perang mata uang? Tapi para pembuat kebijakan dari penyataan G-7 minggu lalu yang menggaris perbedaan antara pelonggaran moneter untuk merangsang ekonomi domestik dan mentargetkan nilai tukar dengan sengaja.
Menurut Goldman Sachs, ada perbedaan di antara keduanya, di mana devaluasi kompetitif berarti ada pihak yang kalah dan memang (zero sum game), sedangkan pelonggaran moneter kompetitif itu bisa positif untuk pertumbuhan global dan membantu mengurangi kesenjangan ekonomi. “Di saat inflasi rendah dan pengangguran tinggi di banyak negara, pelonggaran moneter kompetitif bisa dilakukan,” katanya.

Tidak ada komentar: