BRANCH OFFICE BANDUNG

BRANCH OFFICE BANDUNG
JL. WR. SUPRATMAN No. 21 BANDUNG

Selasa, 29 April 2014

Kredit Tiongkok Ancaman Ekonomi Global

Di saat ekonomi dunia baru saja pulih dari krisis yang dipicu oleh utang di AS dan Eropa, para ekonom punya kekhawatiran baru, Tiongkok. Mereka melihat penggelembungan di sana yang dapat mengancam pertumbuhan global kecuali Beijing membenahinya.
China
Itulah pandangan yang tersirat dari hasil survei yang dilakukan oleh Associated Press terhadap 30 ekonom. Namun mereka tetap optimis upaya Beijing melakukan reformasi struktural dapat memperkuat perbankan, mengurangi kredit macet dan bermanfaat untuk ekonomi dunia. William Cheney, ekonom utama dari John Hancock Asset Management, mengatakan harus ada perubahan cara berbisnis. Tapi  mereka punya rekam jejak bagus soal itu, jadi ia optimis dengan kemampuan mereka melakukan transisi.

Dalam survei itu disebutkan, ekonom mengatakan perlambatan China memberi ancaman pada negara yang mengandalkan komoditas sebagai barang dagangnya ke Tiongkok, seperti Kanada, Brazil, Indonesia, Australia. Menurut Sun Wong Sohn, profesor ekonomi dari California State University, setiap 1% penurunan tingkat pertumbuhan China akan mengurangi 0,3% angka pertumbuhan global.

Sumber kekhawatiran adalah lonjakan kredit dari perbankan China. Pinjaman itu awalnya dikucurkan untuk mendorong pertumbuhan di saat krisis finansial global pada 2008. Bank BUMN membiayai pembangunan rumah, jalur rel, dan perkantoran. Tapi sebagian besar pinjaman itu diarahkan oleh pemerintah lokal untuk proyek semata, bukannya memenuhi kebutuhan bisnis.

Penggelembungan menyebabkan harga tanah di Tiongkon naik dua kali lipat dalam lima tahun, menurut estimasi bank Jepang, Nomura. Kredit beredat melonjak dari 130% PDB di 2008 menjadi 200% pada 2013, menurut Capital Economics. Dengan tumpukan utang secepat itu, seperti di AS sebelum penggelembungan property, krisis finansial bisanya mengikuti.

Tidak ada komentar: